Pemahaman konsep dasar investasi menjadi sangat penting dalam menentukan pilihan investasi yang tepat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Sebelum ini kami sudah membahas beberapa alternatif investasi yang ada saat ini. Pengetahuan akan instrumen investasi saja tidak cukup, Kita sebagai individu juga harus memahami konsep dasar investasi. Jangan hanya tergiur oleh janji-janji keuntungan besar tetapi kerugian yang didapat.Sebagai contoh, kita dihadapi dua pilihan investasi, investasi yang pertama adalah membeli rumah di daerah yang bagus seharga Rp.500 juta, di mana kita dapat memperoleh hasil regular berupa uang sewa dan mungkin menjualnya di masa depan di harga yang lebih tinggi. Atau lebih baik kita menginvestasikan dana di sebuah perusahaan teman yang akan go public, di mana kita bisa mendapatkan dividen setiap tahun dan menjual saham yang kita miliki di harga yang lebih tinggi di tahun mendatang, mana pilihan investasi yang memberikan hasil terbaik?Tentunya untuk dapat memahami dan memutuskan investasi mana yang lebih baik, kita sebagai individu harus memahami tiga konsep dasar investasi.Pertama, keuntungan investasi (investment return). Sehingga kita dapat membandingkan investasi satu dengan yang lain. Tapi ingat hanya fokus terhadap keuntungan saja tidak cukup. Kita harus juga memahami konsep kedua, yaitu risiko investasi (investement risk). Dan terakhir adalah struktur portofolio atau diversifikasi.Keuntungan InvestasiManakah yang terbaik, menginvestasikan di rumah atau membeli saham? Untuk saat ini, kita akan fokus hanya dari segi keuntungannya saja.Investasi 1: Kita membutuhkan dana Rp.500 juta untuk membeli rumah tersebut. Dan dapat menghasilkan Rp.2 juta setiap bulan dalam bentuk sewa. Dan kita berkeinginan untuk menjualnya di tahun depan dengan harga Rp.550 juta.Investasi 2: Kita menginvestasikan Rp.250 juta dalam bentuk saham. Kita mendapatkan dividen sebesar Rp.5 juta satu tahun ini. Dan ekspektasi kita dapat menjual saham tersebut di harga Rp.300 juta satu tahun dari sekarang pada saat perusahaan tersebut go public.Bila dilihat dari kedua alternatif investasi di atas, keduanya memberikan keuntungan dari dua sisi, rumah menghasilkan sewa bulanan dan keuntungan dari hasil menjual rumah satu tahun dari sekarang.Saham, menghasilkan dividen secara regular tapi tahunan, dan ekspektasi kenaikan harga saham dapat diperoleh pula. Jadi bila dilihat, keuntungan pertama adalah pendapatan dalam hal investasi di atas adalah sewa dan dividen. Dan kedua adalah kenaikan dari modal investasi, kenaikan harga rumah satu tahun mendatang dan kenaikan harga saham satu tahun mendatang.. Keuntungan total dari kedua alternatif investasi di atas adalah jumlah dari kedua komponen keuntungan, yaitu pendapatan dan kenaikan dari nilai investasi.Jadi, mana yang lebih baik, investasi di rumah atau saham dalam hal ini? Mari kita coba analisa.Pendapatan dari sewa rumah adalah Rp.2 juta x 12 = Rp.24 juta untuk satu tahun. Keuntungan dari kenaikan harga rumah adalah Rp.550 juta- Rp.500 juta =Rp.50 juta. Sedangkan untuk investasi saham, dividen yang kita terima adalah Rp.5 juta untuk satu tahun. Kemudian keuntungan dari kenaikan harga saham adalah Rp.300 juta – Rp.250 juta = Rp.50 juta.Jadi dari perhitungan ini, apakah investasi rumah lebih baik dari saham? Apakah total keuntungan Rp.74 juta lebih baik dari Rp.55 juta. Mungkin dari segi nilai ya. Tapi apakah kita membandingkat dua investasi yang sama atau apakah kita membanding apel dengan apel atau apel dengan jeruk?Satu hal yang perlu Anda perhatikan adalah jumlah investasi awal yang harus dikeluarkan. Dalam contoh di atas, investasi saham hanya membutuhkan dana – dari investasi rumah.Jadi dilihat dari sini, terlihat bahwa ukuran investasi kedua alternatif ini berbeda. Untuk menghilangkan perbedaan ini dan menjadikan keuntungan kedua investasi ini dapat dibandingkan, sebaiknya Anda memakai tingkat pengembalian atau rate of return.Rumus perhitungan tingkat pengembalian adalah:Jadi bila kita gunakan rumus ini, maka tingkat keuntungan dari investasi rumah dan saham adalah:Sekarang akan lebih mudah untuk membandingkan antara kedua investasi tersebut. Selama jangka waktu satu tahun, investasi rumah memberikan ekspektasi tingkat pengembalian sebesar 14,8 persen, sedangkan saham memberikan ekspektasi tingkat pengembalian sebesar 22,0 persen.Sekarang jelas bawha investsai saham dengan memberikan tingkat pengembalian 22 persen lebih baik dari rumah. Dengan catatan semua komponen adalah tetap. Tapi satu hal yang harus diingat bahwa di dunia nyata tidaklah semudah ini, misalkan saja biaya transaksi atau pajak pasti akan banyak mempengaruhi keuntungan yang bisa kita peroleh. Demikian pula dengan risiko. Tentunya akan membatasi kita dalam mengambil keputusan pilihan investasi. Bukan hanya keuntungan tinggi tapi juga berada dalam toleransi risiko kita sebagai individu.Ekspektasi PengembalianWalau terlihat cukup mudah untuk menghitung keuntungan dari investasi yang telah lalu atau Anda sebagai investor sudah memperolehnya, tapi akan sangat berbeda bila Anda ingin menentukan berapa keuntungan yang bisa Anda dapat satu tahun dari sekarang. Bila Anda menginvestasikan dalam bentuk tabungan atau deposito mungkin hal ini sudah terlihat pasti. Tapi dengan saham, hal ini tidaklah mudah.Performa sebuah investasi di masa lalu sedikit atau tidak memberikan informasi mengenai ekspektasi keuntungan di masa depan. Walau data-data masa lalu tidak menjamin keuntungan di masa depan, dengan semakin banyaknya data yang Anda peroleh memberikan prakiraan terhadap keuntungan investasi di masa depan.Risiko InvestasiPembahasan kita di atas sudah menjelaskan seputar keuntungan dan tingkat pengembalian. Tapi tingkat pengembalian saja tidaklah cukup. Tidak kalah pentingnya untuk dipertimbangkan adalah risiko yang terkait dengan investasi tersebut. Setiap jenis investasi memberikan tingkat pengembalian yang berbeda. Demikian pula risikonya.Pernahkah Anda mendengar kalimat, “ risiko tinggi, keuntungan tinggi”? Pernah? Siapa yang mengatakatan itu? Broker saham Anda, agen properti, dosen profesional investasi atau perencana keuangan Anda?Pernahkan Anda merenungi perkataan di atas? Bila ditelaah lebih dalam, bila Anda berani mengambil risiko yang lebih tinggi dan Anda akan selalu mendapatkan keuntungan yang tinggi pula, jadi pertanyaannya adalah di mana risikonya? Sepertinya adalah bila Anda mengambil investasi dengan risiko tinggi secara langsung Anda akan mendapatkan keuntungan yang tinggi pula. Jadi mungkin kalimat di atas lebih tepat berbunyi, “risiko tinggi’ ekspektasi keuntungan tinggi”.Bila kita mengatakan bahwa investasi tersebut berisiko tinggi, secara umum ini berarti bahwa tingkat pengembalian yang diharapkan mungkin saja tidak tercapai selama waktu investasi. Walau bisa saja memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari apa yang kita harapkan, tapi dalam hal ini kita lebih memperhatikan bagaimana bila tingkat pengembaliannya lebih rendah?Walau pada dasarnya kita tidak bisa menghilangkan semua risiko yang ada, akan tetapi kita bisa meminimalisasi risiko dengan menggunakan strategi investasi yang sesuai. Meminimalisasi risiko berarti memahami risiko tersebut dan mengetahui bagaimana mengukurnya.Secara umum, kita mengukur risiko dengan melihat volatilitas dari total tingkat pengembalian. Aset dengan tingkat voletilitas tertinggi adalah aset yang berisiko tertinggi—aset ini memiliki pergerakan total tingkat pengembalian terbesar. Fluktuasi harga aset ini diukur secara statistik dengan menggunakan standard deviation of return.Standard deviation menjelaskan berapa besar perbedaan keuntungan dari ekspektasi tingkat pengembalian (di dua sisi). Satu Standard deviation di salah satu sisi dari rata-rata tingkat pengembalian memberikan dua pertiga dari semua posibilitas tingkat pengembalian. Dan sepertiganya di luar dari rata-rata dan terbagi rata terhadap kedua sisi. Dua Standard deviation secara rata-rata memberikan 95 persen dari rata-rata eksektasi tingkat pengembalian.Struktur PortofolioTentunya kita pernah mendengar satu kalimat “don’t put your eggs in one basket”. Apa arti dari kalimat tersebut? Bahwa kita jangan menempatkan semua dana yang kita miliki hanya dalam satu jenis aset saja. Karena bila terjadi kerugian maka kita mengalami kerugian besar. Dari sudut pandang alokasi aset, kalimat di atas berarti mengurangi risiko portofolio dengan menambahkan jenis aset lain yang berprilaku berbeda dengan aset yang Anda miliki dalam portofolio. Hal ini biasa disebut sebagai diversifikasi portofolio.Teori diversifikasi didasari oleh kenyataan bahwa nilai beberapa aset akan naik dan turun secara bersamaan dan beberapa aset lain nilainya bergerak ke arah yang berbeda. Faktor-faktor independen di luar dari karakteristik dari sebuah investasi, seperti keadaan ekonomi, politik dan kejadian sosial bisa mempengaruhi nilai investasi tersebut.Jadi dapat disimpulkan bahwa risiko portofolio tidak dapat dihilangkan secara tuntas, tapi bisa dikurangi dengan membuat sebuah portoflio yang terdiversifikasi, di mana di dalamnya terdiri dari jenis aset yang berbeda-beda, di mana nilainya secara historis bergerak ke arah yang berbeda atau bergerak ke arah yang sama tapi dengan perbedaan besar dan kecilnya perubahan yang terjadi.Demikianlah dasar-dasar konsep investasi yang dapat kami sampaikan untuk pembahasan kali ini. Masih diperlukan pembelanjaran yag terus-menerus sehingga kita memahami dengan benar ketiga konsep di atas yang pada akhirnya memberikan benefit bagi Anda guna mencapai tujuan keuangan yang dimiliki.Siapa, sih, yang tak ingin punya tabungan? Saya juga mau, kok, menabung. Masalahnya, uang saya habis terus...""Belum lagi anak-anak minta dibelikan sepatu...""Saya kan juga perlu beli ini dan itu...""Ah, saya memang enggak berbakat mengelola uang..."Kata-kata tersebut diatas mungkin akrab di telinga Anda, atau mungkin Anda sendiri yang mengalaminya. Anda ingin sekali bisa menabung, tapi dalam prakteknya, hal itu sulit dilakukan. Anda selalu kehabisan uang di akhir bulan sehingga tidak bisa menabung. Apakah Anda tergolong orang yang seperti itu?Jangan kecil hati. Semua orang hampir pasti akan mengalaminya. Menabung (melakukan investasi secara rutin) seringkali dilakukan untuk berbagai macam tujuan. Namun demikian, apabila Anda menyisihkan uang secara rutin, maka uang yang Anda kumpulkan tersebut bisa sangat bermanfaat.Seseorang yang memiliki penghasilan sebesar Rp 1 juta per bulan, misalnya, setelah setahun menabung hanya memiliki saldo rekening Rp 200 ribu di rekeningnya. Setelah ditanya kenapa jumlah saldo rekeningnya cuma sebesar itu setelah bekerja setahun, ia mengatakan penghasilannya sering habis dipakai dalam sebulan. Jadi, ia tidak bisa menabung.Sebetulnya, kalau ia mau menabung sebesar Rp 100 ribu saja setiap bulan, maka pada akhir tahun ia sudah akan memiliki jumlah saldo rekening sebesar Rp 1,2 juta, plus bunganya.Apakah situasi seperti ini cukup akrab di telinga Anda? Atau, apakah Anda juga mengalaminya?MENINGKATKAN DAN MENEKANSaya akan beberkan satu cara buat Anda. Kalau selama ini Anda selalu membelanjakan dulu uang Anda sehingga selalu kehabisan uang untuk ditabung, kenapa sekarang Anda tidak membalik proses itu?Ketika Anda mendapatkan gaji Anda pada tanggal 25, sisihkan dulu sebagian uangnya untuk Anda tabung, baru kemudian sisanya dibelanjakan. Bila itu Anda lakukan secara rutin, maka setelah setahun, Anda sudah akan memiliki simpanan dalam jumlah besar.Bila Anda melakukan hal itu, maka Anda tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk tidak menabung. Yah, mungkin saja uang yang bisa Anda belanjakan jadi berkurang. Tapi itulah konsekuensinya: Anda perlu memiliki sejumlah dana sebagai cadangan untuk masa depan Anda.Sebagai contoh, penghasilan Anda tadinya adalah Rp 1 juta per bulan. Tadinya, Anda biasa membelanjakan Rp 1 juta tersebut sampai habis. Sekarang, dengan Anda menabung Rp 100 ribu per bulan di muka, maka total pengeluaran Anda cuma tinggal Rp 900 ribu per bulan..Bila Anda merasa jumlah itu tidak cukup, maka Anda harus melakukan satu diantara tiga pilihan dibawah ini:1. Meningkatkan pendapatan Anda. Dalam contoh di atas, pendapatan Rp 1 juta ditingkatkan menjadi Rp 1,1 juta. Dengan Anda tetap menabung Rp 100 ribu, maka pengeluaran Anda bukan lagi Rp 900 ribu, tapi kembali menjadi Rp 1 juta.2. Menekan pengeluaran Anda. Dalam contoh di atas, Anda bersedia untuk menekan pengeluaran Anda yang tadinya Rp 1 juta menjadi Rp 900 ribu saja.3. Melakukan keduanya, yakni meningkatkan pendapatan sekaligus menekan biaya hidup. Dalam contoh di atas, Anda bisa meningkatkan pendapatan Anda menjadi Rp 1,1 juta, dan menekan pengeluaran Anda menjadi Rp 900 ribu. Dengan demikian, Anda malah memiliki selisih yang lebih besar lagi untuk ditabungkan!Terserah Anda, mana dari ketiga cara tadi yang hendak Anda pilih. Yang paling penting, Anda harus membiasakan diri untuk menabung. Dalam hal ini, apabila Anda mengalami kesulitan untuk menabung karena alasan selalu kehabisan, maka Anda bisa menabung di muka begitu Anda mendapatkan penghasilan.Ingat selalu: Anda perlu dana cadangan untuk masa-masa yang terduga kelak.KE MANA MENABUNG?Ada banyak pilihan yang bisa Anda gunakan sebagai tempat menabung. Salah satu tempat menabung yang paling populer bagi orang Indonesia adalah tabungan di bank. Kelebihan tabungan adalah bahwa dana dalam tabungan bisa diambil kapan pun Anda inginkan. Kelemahan tabungan adalah bahwa pada saat ini, umumnya tabungan di bank hanya memberikan bunga yang kecil.Selain itu, Anda mungkin juga bisa menabung dengan membeli emas. Bila Anda menabung sebesar, katakan, Rp 200 ribu per bulan, Anda mungkin bisa membeli emas yang jumlahnya sesuai dengan nilai uang yang Anda tabungkan. Pada saat ini, banyak tersedia koin emas yang bisa dibeli dengan jumlah satu gram saja..Sebagai alternatif, Anda bisa juga menabung ke dalam bentuk investasi seperti Reksa Dana. Reksa Dana adalah sebuah bentuk investasi dimana uang yang Anda tabungkan akan dikelola oleh sebuah tim Manajer Investasi untuk diinvestasikan ke dalam berbagai macam produk investasi. Untuk bisa berinvestasi dalam Reksa Dana, bisa dimulai dengan jumlah persyaratan dana minimal sebesar Rp 100 ribu.Jelas, ada beberapa pilihan bila Anda hendak menabung. Kenapa tidak memulainya?
Rabu, 30 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar